MNC Financial Center Lt 14

Jl. Kebon Sirih No. 21-27 Jakarta Pusat, Indonesia

Working Hours

Weekday | 09.00 - 17.00 WIB

Send Your Mail at :

Indo@Asiachart.net

Title

Autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et dolore feugait

Performa saham batubara solid

JAKARTA. Saham emiten pertambangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) kinclong tahun ini. Bahkan, performa indeks sektor pertambangan mampu mengungguli sektor-sektor lainnya.

Mengutip data Bloomberg, secara year to date per 17 Juli 2018, indeks pertambangan melesat 25,03%. Saham tambang melaju meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 7,80% pada periode yang sama.

Jawara sektor pertambangan terutama yang bergerak di tambang batubara. Saham pendatang baru, PT Alfa Energi Investama (Tbk) memimpin di antara produsen batubara lainnya dengan kenaikan 285,91% ytd, diikuti PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang naik 72,16%, serta PT Bayan Resources Tbk (BYAN) naik 66%.

Sebaliknya, performa PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memble dengan penurunan 15,56%. SMR Utama Tbk (SMRU) dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mengekor yang masing-masing minus 7,05% dan 3,23%.

Kiswoyo Adi Joe, Kepala Riset Narada Aset Manajemen mengatakan, kinerja emiten batubara terus meningkat seiring permintaan yang tinggi. Apalagi, harganya melejit sepanjang tahun ini. Sebagai gambaran, harga batubara di ICE Futures Europe bertengger di US$ 117,90 per metrik ton pada Senin (17/7). Harga ini sudah naik 27% dari awal tahun.

Lanjut Kiswoyo, kinerja emiten batubara juga didukung dengan diversifikasi ke sektor hilir, seperti pembangkit tenaga listrik.

Analis Semesta Indovest Sekuritas Aditya Perdana Putra menilai, performa PTBA, HRUM, dan ITMG memuaskan karena didukung fundamental. Misalnya, PTBA meraih kenaikan laba sebesar 80% di kuartal I-2018. Kenaikan harga batubara dan diversifikasi ke pembangkit listrik dan kelapa sawit menyokong laba. “PTBA bisa membagikan dividen cukup tinggi, sehingga sahamnya kompetitif,” kata Aditya.

HRUM didukung kinerja keuangan yang bagus, dengan posisi utang yang kecil. Penjualan batubara cukup besar ke Asia Tengah dan Asia Timur.

Sebaliknya, saham ADRO melemah lantaran kinerja kuartal I-2018 loyo. Target penjualan tidak tercapai dan laba bersih turun. Meski begitu, kata Aditya, apabila kuartal II-2018 kinerja keuangan membaik, sahamnya bisa rebound lebih cepat.

Sedangkan, saham BUMI terus turun karena masih terpengaruh restrukturisasi utang.

 

Sentimen positif

Analis Semesta Indovest Aditya Perdana menilai, sentimen positif masih menyokong emiten batubara. Selain harga solid, perang dagang Amerika Serikat dan China bisa menguntungkan. China masih butuh batubara dari domestik.

Pelemahan rupiah juga tidak berimbas lantaran transaksi berdenominasi dollar AS. Aditya merekomendasikan beli HRUM di level Rp 3.100. Sementara, holdPTBA di Rp 4.500 per saham.

Kiswoyo menyarankan investor beli saham emiten tambang jika turun signifikan. Ia meyakini, saham komoditas masih booming hingga 2020. Kemarin, HRUM ditutup di Rp 2.480 dan PTBA di Rp 4.380 per saham.

 

Sumber : Kontan.co.id

admin

Leave a Reply

%d bloggers like this: